SELAMAT DATANG DI ZONA PERJUANGAN MEMBELA KEJUJURAN DAN MELAWAN KEBOHONGAN MEDIA SEKULER SERTA SIAP SIAGA MENUMBANGKAN ENGKHIANAT BANGSA

Sabtu, 02 Agustus 2014

Media Korut : Obama Kera Hitam dan Park Pelacur Tua


KCNA ; Obama Kera Hitam dan Park Pelacur Tua




KCNA : Obama Kera Hitam dan Park Pelacur Tua

Pyongyang – Kantor berita Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), disebut telah memberitakan berita yang akan semakin menyulut api permusuhan antara Korut dengan Amerika Serikat berkobar. Pasalnya kantor berita tersebut telah berani menyebut presiden Amerika Serikat, Barack Obama dengan sebutan Monyet Hitam Asal Afrika.

Sedangkan dari Sky News melaporkan, bahwa artikel kecut tersebut sengaja dipublish untuk menanggapi kunjungan Obama ke Korea Selatan. KCNA menulis, ”Park Geun-Hye (Presiden Korsel) telah memberikan pernyataan dan kelakuan yang bodoh. Dia kembali mengundang monyet hitam penguasa Amerika ke daratan Korea Selatan.”

Pemberitaan itu sontak membuat Pemerintah Amerika Serikat (AS) geram, dan mengecam Media Korea Utara, Jumat (9/5/2014).

Tidak seperti artikel kebanyakan, artikel ini memang sengaja tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris karena beberapa alasan. Hingga akhirnya artikel ini berhasil ditemukan oleh Josh Stanton, seorang aktivis HAM yang juga seorang penulis sekaligus kritikus soal kekejaman dan pelanggaran HAM di Korea Utara.

Sementara itu Media NK News juga menuliskan hal yang hampir sama dengan KCNA. Mereka menyatakan jijik kepada Obama. “Saat saya melihat dari dekat, saya melihat dia seperti monyet Afrika yang berwajah hitam, mata abu-abu, hidung cekung, serta mulut dan telinga yang gemuk kasar lagi berbulu”.

Kang Hyuk seorang pekerja di pabrik besi Chollima, seperti dikutip KCNAmenambahkan, Obama bertingkah seperti kera yang gemar memakan segalanya. “Kebun binatang Afrika adalah tempat yang tepat bagi Obama, mengunyah makanan yang dilemparkan pengunjung,” ujar dia.

Tidak hanya menyatakan rasisme terhadap Obama, namun artikel tersebut juga menyerang Presiden Korsel, Park Geun-Hye. Mereka menyebutnya sebagai “pelacur tua” dan “boneka Amerika”. Terkait perang media ini, banyak pihak yang menganalisa jika perang di Semenanjung Korea bakal terjadi tak lama lagi, Korsel bergandengan dengan Amerika Serikat dan Korut bergandengan dengan Rusia. Akankah terjadi perang dunia ??

Wallahu A’lam

Rep: Yaqub
Editor: Muhammad Ishaq


Berita di Lasdipo.com juga dapat dibaca melalui perangkat mobile anda di m.lasdipo.com

Korut : Terorisme Hanyalah Kedok Teroris Amerika Untuk Gulingkan Negara Islam



Korut : Terorisme Hanyalah Kedok Amerika Dan Sekutunya Untuk Gulingkan Negara Islam

Pyongyang (lasdipo.com) – Pemerintah Korea Utara (Korut) meledek laporan tahunan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) yang mengklaim AS sebagai negara penjamin kebebasan berkeyakinan di dunia.

Pemerintahan Korut pimpinan Kim Jong-un itu menyebut AS munafik, karena AS justru pihak yang paling bertanggung jawab atas ketidakstabilan situasi dunia.

”Mantan Menteri Pertahanan AS Donald Rumsfeld dan para pemimpin negara lain mengejar kebijakan yang bertujuan menggulingkan pemerintah di negara-negara Islam dengan dalih memerangi terorisme,” tulis kantor berita KCNA, Kamis (31/7/2014), mengutip pernyataan pemerintah Korut.

Korut juga mengecam Washington yang selalu mengkritik Pyongyang dalam berbagai laporan yang bertujuan mengisolasi Korut di panggung internasional.

”Upaya untuk merusak Korut dengan fitnah adalah tindakan tidak masuk akal dengan menyebut (di Korut) tidak ada kebebasan beragama. Itu benar-benar tidak masuk akal,” bunyi pernyataan pemerintah Korut. ”Sepenuhnya, kami menjamin kebebasan berkeyakinan setiap warga negara.”

Reaksi Korut itu sebagai respons laporan tahunan Biro Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Perburuhan Departemen Luar Neger AS yang berjudul ”International Religious Freedom Report for 2013”.

Laporan itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS, John Kerry pada briefing khusus pada tanggal 28 Juli 2014 lalu.

Dalam laporan ini, selain menyebut Korut, AS juga menuduh Iran, China, Arab Saudi, Bahrain, Sudan dan negara lain tidak memberikan jaminan kebebasan berkeyakinan terhadap warganya.

Rep: Muhammad Ishaq
Editor: Muhammad Ishaq
Berita di Lasdipo.com juga dapat dibaca melalui perangkat mobile anda di m.lasdipo.com

Jumat, 01 Agustus 2014

Media Sudah menjadi Pembantai Sadis, "Pokoknya Prabowo Harus Kalah" ?


"Pers Mengeroyok, Prabowo Harus Kalah"

Oleh MOH MAHFUD MD*

CAPRES Prabowo memang sangat fenomenal. Bayangkan, sekitar enam minggu sebelum pemungutan suara, elektabilitas Prabowo kalah jauh (22 %) terhadap Jokowi (46 %).

Tapi, saat pemungutan suara ternyata Prabowo mampu menempatkan dirinya seimbang dengan rivalnya itu. Bahkan, Tim Prabowo-Hatta meyakini Prabowo menang. Itu pun, Prabowo dikeroyok oleh lawan-lawannya melalui sekelompok media massa secara brutal, jauh dari kaidah pers dengan segala kode etiknya. Hantaman media terhadap Prabowo tidak hanya melalui pemberitaan yang tidak imbang melainkan secara brutal melalui mutilasi berita, dilepas dari konteksnya, sehingga Prabowo selalu disudutkan.

Bukan hanya Prabowo yang dibegitukan, Tim Prabowo-Hatta pun dibantai secara sadis. Tiga hari sebelum KPU mengumumkan hasil penghitungan suara, sebagai Ketua Timkamnas Prabowo-Hatta, saya diwawancarai oleh tiga televisi tentang peluang Prabowo. Saya jawab, kami yakin Prabowo-Hatta menang, tetapi jika ternyata nanti kalah, saya akan kembalikan mandat karena gagal mengantarkan kemenangan Prabowo-Hatta.

Saya takkan ikut tim hukum karena tim hukum dan timkamnas tugasnya berbeda. Ternyata, salah satu media memutilasi berita itu dengan menyiarkan secara berulang-ulang, “Mahfud MD kembalikan mandat karena gagal memenangkan Prabowo Hatta.”

Beritanya dimutilasi dengan membuang bagian atas dan bagian bawahnya. Pada rapat resmi Tim Prabowo-Hatta tanggal 20 Juli 2014 di Four Season Hotel ada semangat banyak tokoh di lingkungan Prabowo-Hatta untuk menggugat ke MK.

Saat itu saya meminta data real count internal dan berbagai temuan tim saksi dan data yang ditangani oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Saya katakan sebagai ketua timkamnas, saya belum pernah mendapat data apa pun, padahal kalau akan menggugat ke MK, harus ada kepastian tentang signifikansi kesalahan penghitungan dan terjadinya pelanggaran yang terstruktur, sistematis, dan masif.

Kalau tidak cermat, kita bisa terjerumus. Rupanya perdebatan di hotel itu bersebar ke wartawan karena memang sangat banyak yang hadir meski resminya yang boleh masuk dibatasi. Ketika pers mengonfirmasi hal itu maka saya pun membenarkan mengajukan pertanyaan itu. Eh, beritanya dijadikan panas. Ditulis, “Mahfud Kecewa pada PKS”, "Mahfud Tak Dapat Data Apa pun dari PKS”.

Isinya sekilas benar, tetapi sejatinya mengadu domba antara saya dan PKS. Begitu juga soal penarikan diri dari proses rekapitulasi suara di KPU yang terkait dengan peran Akbar Tanjung. Pers tahu bahwa rapat timkamnas yang dipimpin langsung oleh Prabowo tanggal 22 Juli 2014 itu memutuskan menarik diri dari proses rekapitulasi di KPU sesuai dengan usul Akbar Tanjung. Rapat itu memang tidak steril karena memang banyak yang ikut nimbrung.

Sebagai ketua timkamnas, saat ditanya pers, saya jelaskan sebagai informasi biasa. Kepada pers saya katakan bahwa pada rapat itu memang muncul tiga opsi. Pertama, langsung menyiapkan gugatan ke MK; Kedua, menerima keputusan KPU dengan legawa sebagai realitas politik; Ketiga, menolak untuk melanjutkan rekapitulasi karena KPU tidak prudent dan tidak mengindahkan rekomendasi-rekomendasi Bawaslu.

Alternatif ketiga ini diusulkan oleh tim Akbar Tanjung dan saya ikut membahasnya pada dini hari di rumah Akbar Tanjung. Saya sangat setuju usul Bang Akbar asal Prabowo setuju. Ternyata, rapat Tim Prabowo-Hatta siang harinya menyambut dengan semangat dan setuju dengan usul Akbar Tanjung. Itulah yang saya konfirmasikan kepada pers sebagai informasi biasa.

Tetapi, berita biasa dan usul bagus dari Akbar Tanjung itu menjadi panas karena digoreng dengan judul-judul berita yang provokatif. Ada yang menulis, “Akbar Tanjung Biang Pengunduran Diri Prabowo”, “Inisiatif Pengunduran Diri Prabowo datang dari Akbar Tanjung”, dan judul-judul lain yang memojokkan Akbar Tanjung.

Gorengan berita ini dijadikan alat oleh lawan-lawan politik Akbar Tanjung di Golkar dengan ikut menuduh Akbar sebagai biang kerok yang dikesankan jelek, padahal usulnya adalah usul yang baik dan disetujui oleh rapat secara bulat. Loyalis Akbar pun kemudian ada yang menyerang saya. Ada yang mengatakan saya membocorkan rahasia rapat, padahal itu bukan rahasia dan pers sudah tahu sendiri apa yang dibicarakan dalam rapat.

Ada yang menuduh saya disusupkan oleh Luhut Panjaitan dengan alasan saya teman dekat Luhut. Padahal, kedekatan saya dengan Luhut justru menjadi retak ketika saya memberi tahu padanya bahwa saya akan bergabung dengan Prabowo-Hatta. Ada juga yang menyebarkan foto-foto saya yang sedang mengacungkan dua jari sambil menuduh saya berkomplot, mendukung capres nomor 2.

Padahal, foto-foto tersebut adalah foto-foto lama yang sudah beredar saat kampanye untuk PKB pada Pileg Maret/April 2014. Karena, saat itu saya berkampanye untuk PKB yang merupakan kontestan pileg nomor urut 2 maka saya banyak berfoto dengan dua jari. Gorengan-gorengan, mutilasi berita, dan sodokan atas Prabowo dan para pendukungnya ini dipastikan terus berlangsung sampai keluarnya vonis MK.

Sebab ada yang punya target, “pokoknya Prabowo harus kalah”. Semoga setelah keluarnya vonis MK, semua selesai dengan damai dan kita terus membangun politik yang lebih beradab.

MOH MAHFUD MD
Pakar Hukum Tata Negara

*sumber: http://pemilu.sindonews.com/read/887442/116/pers-mengeroyok-prabowo-harus-kalah

Fakta Usaha Halal dan BIsnis Berkah Info Anda